Langkah Kecil Menuju Mimpi Besar
By: GABRIELLE EIFFEL FRADYTHNASEARA SETIABUDI (Eiffel)
Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III
Namanya Amira. Ia duduk di kelas 5 SD Mentari Pagi. Amira dikenal sebagai anak yang pendiam dan pemalu. Ia jarang sekali berbicara, apalagi kalau disuruh maju ke depan kelas. Saat guru memintanya membaca atau menjawab pertanyaan, wajahnya langsung memerah seperti tomat, bahkan jadi gagap karena gugup. Kata-kata yang ingin ia ucapkan rasanya menempel di tenggorokan dan tak mau keluar.
Tapi siapa sangka, Amira punya cita-cita yang besar: ingin menjadi diplomat. Ia ingin keliling dunia, berbicara mewakili negara, dan membawa perdamaian.
"Cita-cita kok jadi diplomat, tapi ngomong saja susah! "ejek seorang teman sekelasnya.
Amira hanya tersenyum kecil. Hatinya sakit, tapi ia tidak mau menyerah.
Di rumah, Amira sering berlatih sendiri. Ia berdiri di depan cermin, berbicara seolah-olah sedang diwawancara.
"Selamat pagi, saya Amira Putri, wakil dari Indonesia," ucapnya sambil membungkuk pelan seperti diplomat sungguhan.
Kadang, suaranya masih bergetar. Kadang-kadang, ia masih terbata-bata. Tapi ia terus mencoba. Setiap hari. Sedikit demi sedikit, ia mulai terbiasa.
Ibu Amira sangat mendukung.
"Bu, kenapa ya Amira selalu gugup ya kalau ngomong di depan orang?" tanyanya suatu malam.
Ibu tersenyum dan memeluk Amira. "Nak, rasa gugup itu wajar. Tapi kalau kamu terus berani mencoba, nanti lama-lama rasa gugup itu akan berubah jadi semangat."
Amira mengangguk. Sejak saat itu, ia menuliskan kata-kata dari ibunya di buku hariannya:
"Berani mencoba adalah langkah pertama menjadi hebat."
Suatu hari, sekolah Amira mengadakan lomba pidato tentang cita-cita. Awalnya, Amira tidak mau ikut. Tapi bu guru mendekatinya dan berkata pelan, “Amira, kamu punya impian yang luar biasa. Mungkin inilah saatnya kamu mulai mewujudkannya.”
Amira ragu. Tapi ia mengingat kata-kata ibunya. Dengan tangan gemetar, ia mengisi formulir lomba.
Selama dua minggu, ia berlatih keras. Ia menulis naskah pidato sendiri tentang cita-citanya menjadi diplomat. Ia membaca keras-keras setiap malam di kamar, di halaman rumah, bahkan saat mandi! Ia minta adiknya jadi penonton.
Hari lomba pun tiba. Ketika namanya dipanggil, jantung Amira berdetak kencang. Tangannya dingin. Tapi ia melangkah ke depan, perlahan.
Di atas panggung, ia memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang, lalu mulai berbicara.
“Saya… saya Amira Putri. Cita-cita saya adalah menjadi seorang diplomat.”
Awalnya suaranya pelan. Tapi makin lama, suaranya makin jelas dan mantap. Ia bicara dari hati. Ia bercerita tentang impiannya, tentang latihannya, tentang ketakutannya, dan tentang keberaniannya untuk mencoba.
Saat ia selesai, ruangan hening. Lalu... tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula sekolah.
Amira menunduk sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut. Ia merasa bangga.
Beberapa hari kemudian, Amira diumumkan sebagai juara harapan satu. Bukan juara pertama memang. Tapi baginya, itu adalah kemenangan terbesar: ia telah mengalahkan rasa takutnya sendiri.
Dan sejak hari itu, ia tidak pernah berhenti bermimpi. Karena ia tahu, suara kecil dalam diam bisa menjadi suara besar di dunia, asalkan berani mencoba.
Pesan moral:
Keberanian bukan berarti tidak takut. Keberanian adalah tetap melangkah meski hati gemetar. Jangan pernah remehkan dirimu hanya karena kamu berbeda. Setiap anak punya cara sendiri untuk bersinar.
Editor:Wihelmus Kamis
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Surat Tua Untuk Ibu Nirmala
Ilustrasi by Gemini AI Oleh: ELORA ABIGAIL BUTAR BUTAR (Elora) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu, sep
SENYUM DIBALIK PAPAN TULIS
By : CATHERINE AZELIA NAPITU (Catherine) Murid Kelas VI SD Santo Fransiskus III Pagi yang cerah menyelimuti kota Jakarta. Sinar matahari memantul pada deretan gedung-gedu
Bunga Yang Tercabut Paksa
By:JADINE GRACIELA CONG (Jadine) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Suatu hari, hiduplah seorang gadis bernama Dewi. Ia yatim piatu sejak kecil, Sediri di dunia yang terasa begitu
“Jejak Persahabatan Andi dan Kilan”
Oleh:KEVIN GLENNICHOLAS BENEDICT SIMANJUNTAK (Kevin) (Siswa kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Di suatu desa yang tenang, diantara hijaunya pepohonan dan riuh tawa anak-a
Sebuah perpisahan
By:GOSYEN ZIO TIMOTY LAJANTO TJANDRA (Gosyen) Malam situasinya tenang penuh keheningan. Di bawah sinar rembulan yang lembut, Cristian dan Ifana berjalan beriringan di jalan k
Boneka Beruang, Sahabat Terbaikku
By:SYALOMITA EVANGELIS RONATIO PASARIBU (Shalom) (siswi kelas VI SD St.Fransiskus III Jakarta) Sore itu, mentari perlahan tenggelam di balik jendela rumah kecil milik keluarga
Kancing Ajaib Dan Pelajaran Kejujuran
By: ELORA ABIGAIL BUTAR BUTAR (Elora) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Lia, siswi kelas enam yang cerdas dan rajin, memiliki sebuah kancing biru laut yang selalu ia simpan denga
Mengukir Masa Depan di Papan Tulis
By : MICHELLE GABRIELLA LIAUW ANN (Michelle) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Di sebuah sekolah sederhana, di antara riuh tawa dan langkah terburu para siswa, ada seorang gadis
BERUBAH SEBELUM TERLAMBAT
By: BRIGITTA RAISSA SAMANTHA GINTING (Brigita) (Brigita adalah siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Setiap anak tentu ingin diakui dan disukai oleh teman-temannya. Namun tida
Si Bobi yang Keasikan Main HP
By : ELIZABETH ALVIONA (Eli) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Setiap hari, Bobi tidak bisa lepas dari HP-nya. begitu bangun tidur, ia langsung mentap layer. Saat makan, HP-
