ORANG YANG TEPAT, WAKTU YANG BERKHIANAT
Oleh: NOVA MARIA KRISTINA (Nova)
(Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta)
Pagi itu cerah, secerah wajah murid-murid SD Fransiskus III yang kembali memenuhi halaman sekolah. Tahun ajaran baru selalu membawa dua hal, harapan dan kegaduhan. Anak-anak berlarian kecil, saling bertanya tentang kelas baru, masuk kelas mana, duduk dengan siapa, dan berpisah atau bertemu kembali dengan teman lama.
Di antara kerumunan itu, Rissa dan Ella berdiri di depan papan pengumuman. Jari mereka sibuk menelusuri daftar nama.
“6B!” seru Ella riang.
Risa tersenyum lega. Mereka masih satu kelas. Namun ketika melangkah ke ruang kelas 6B, Rissa merasakan sesuatu yang asing. Wajah-wajah baru mendominasi. Teman-teman lama hanya tinggal beberapa, selebihnya adalah orang-orang yang belum benar-benar ia kenal.
Dua bulan berlalu. Rissa mulai terbiasa dengan ritme kelas baru. Kerja kelompok, presentasi, tumpukan tugas, dan bayang-bayang ujian kelulusan yang semakin mendekat.
Suatu hari, ketika pelajaran Bahasa Indonesia Berlangsung, Bu Susan membagi kelompok belajar menggunakan spin wheel. empat nama terpilih dalam satu kelompok: Rissa, Ella, Michael, dan Kael.
Sejak saat itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh di hati Rissa.
Kael sering membantunya memahami pelajaran, terutama saat belajar bersama. Cara bicaranya tenang, kadang diselingi candaan ringan yang membuat Rissa tertawa tanpa sadar. Bahkan obrolan singkat di luar pelajaran terasa istimewa bagi Rissa.
Ella tentu saja menyadarinya.
Setiap kali pipi Rissa memerah, Ella tak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda.
“Pipinya kenapa merah, Rissa?” ucapnya usil. “Baper, ya?”
Hari-hari berikutnya, kelompok mereka semakin kompak. Bukan semata karena perasaan, tetapi karena tekanan ujian kelulusan yang mulai terasa nyata. Di tengah kesibukan itu, Rissa mulai memahami bahwa rasa sukanya pada Kael lebih menyerupai kekaguman. Kael bukan hanya lucu, tetapi juga tenang menghadapi soal-soal matematika yang rumit sesuatu yang selalu membuat Rissa kagum.
Tanpa Rissa sadari, Kael pun diam-diam menyimpan perasaan yang sama. Ia mengagumi Rissa perempuan kecil yang berani, jujur, dan tak mudah menyerah.
Waktu berjalan cepat, hingga suatu hari Rissa memberanikan diri mengungkapkan perasaannya. Kael menyambutnya dengan senyum dan pengakuan yang tulus. Namun, kebahagiaan itu singkat. Kelulusan semakin dekat, dan keduanya sepakat untuk fokus pada pendidikan masing-masing.
Ujian nasional berakhir. Pengumuman penerimaan SMP pun keluar.
Rissa diterima di SMP impiannya di Jakarta Utara. Kael melanjutkan pendidikan di sekolah olahraga di Jakarta Selatan. Jarak yang dulu terasa sepele, kini menjelma tembok besar bagi dua anak yang baru berusia dua belas tahun.
Suatu sore, Rissa duduk di sebuah kafe kecil bersama Ella. Ella yang biasanya ramai, kini hanya diam, memperhatikan sahabatnya yang menatap layar ponsel tanpa minat. Tidak ada lagi rona merah di pipi Rissa saat nama Kael muncul bahkan pesan itu pun sudah lama tak datang.
“Gimana sama Kael, Ris?” tanya Ella pelan.
Rissa menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.
“Kita udah jarang ngobrol, El. Mungkin Kael benar… kita memang harus fokus sama jalan masing-masing. Dunia SMP ternyata luas banget.”
Ella mengangguk, memahami.
Beberapa perasaan memang tidak diciptakan untuk dimiliki terlalu lama. Ada yang hadir hanya untuk di kenang sebagai cerita sederhana tentang orang yang tepat, tetapi datang di waktu yang belum sempat setia.
SPMB SD Santo Fransiskus III Tahun Pelajaran 2026/2027 : https://bit.ly/SPMB_SDFR3
Editor : Wihelmus
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
SUNYI DALAM PERTEMANAN
Oleh : IBRENA AMANDAYUNNA BRAHMANA (Ibrena) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Aku dan Adel adalah dua orang yang berbeda dalam hampir segala hal. Adel suka meng
Masihkah Kita Bersahabat?
By : BRIGITTA RAISSA SAMANTHA GINTING (Brigita) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III) Gita dan Tifa adalah dua sahabat yang telah tumbuh bersama sejak taman kanak-kanak. Bert
Surat Tua Untuk Ibu Nirmala
Ilustrasi by Gemini AI Oleh: ELORA ABIGAIL BUTAR BUTAR (Elora) (Siswi kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Langit Jakarta sore itu berwarna kelabu, sep
SENYUM DIBALIK PAPAN TULIS
By : CATHERINE AZELIA NAPITU (Catherine) Murid Kelas VI SD Santo Fransiskus III Pagi yang cerah menyelimuti kota Jakarta. Sinar matahari memantul pada deretan gedung-gedu
Bunga Yang Tercabut Paksa
By:JADINE GRACIELA CONG (Jadine) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Suatu hari, hiduplah seorang gadis bernama Dewi. Ia yatim piatu sejak kecil, Sediri di dunia yang terasa begitu
“Jejak Persahabatan Andi dan Kilan”
Oleh:KEVIN GLENNICHOLAS BENEDICT SIMANJUNTAK (Kevin) (Siswa kelas VI SD St. Fransiskus III Jakarta) Di suatu desa yang tenang, diantara hijaunya pepohonan dan riuh tawa anak-a
Sebuah perpisahan
By:GOSYEN ZIO TIMOTY LAJANTO TJANDRA (Gosyen) Malam situasinya tenang penuh keheningan. Di bawah sinar rembulan yang lembut, Cristian dan Ifana berjalan beriringan di jalan k
Boneka Beruang, Sahabat Terbaikku
By:SYALOMITA EVANGELIS RONATIO PASARIBU (Shalom) (siswi kelas VI SD St.Fransiskus III Jakarta) Sore itu, mentari perlahan tenggelam di balik jendela rumah kecil milik keluarga
Kancing Ajaib Dan Pelajaran Kejujuran
By: ELORA ABIGAIL BUTAR BUTAR (Elora) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Lia, siswi kelas enam yang cerdas dan rajin, memiliki sebuah kancing biru laut yang selalu ia simpan denga
Mengukir Masa Depan di Papan Tulis
By : MICHELLE GABRIELLA LIAUW ANN (Michelle) Siswi Kelas VI SD Santo Fransiskus III Di sebuah sekolah sederhana, di antara riuh tawa dan langkah terburu para siswa, ada seorang gadis
